I made this widget at MyFlashFetish.com.

Monday, October 21, 2013

Klub PA Path Finder Melakukan Kemah Rohani di Bentangor


Beberapa waktu lalu, (14-15/13), Jemaat Gereja Adven yang tergabung dalam klub PA (Pencinta Alam) Path Finder melakukan kemah rohani sekaligus fieldrip (kunjungan lapangan-red),  di kawasan hutan Bukit Peramas, di Pusat Pendidikan lingkungan Yayasan Palung, Bentangor Pampang Center, di Desa Pampang Harapan.
Perkenalan dengan peserta PA Path Finder. foto doc. YP

penyampain materi tentang pencinta alam dan survival. foto doc. YP

Kegiatan pencinta alam yang dilaksanakan tersebut lebih banyak menyampaikan materi tentang pengenalan dasar pencinta alam terkait bagaimana kaum muda memberi perhatian terhadap ciptaan.

Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, berbagai kegiatan dilaksanakan antara lain seperti pengenalan dasar pencinta alam dan materi tentang survival (cara bertahan hidup di alam bebas). Esok harinya mereka melakukan renungan pagi dan melakukan fieldtrip di jalur baru di kawasan hutan belakang kantor Yayasan Palung menuju hutan di sekitar pantai pasir Mayang. 
Bernyanyi dalam doa untuk ciptaan pencipta. foto doc. YP

Game atau permainan untuk kebersamaan. foto doc. YP

            Sepanjang jalan melewati jalur, peserta diajak untuk mengenal alam dan lingkungan sekitar. F. Wendy Tamariska, Koordinator Program PPS Hukum dari Yayasan Palung, memberikan gambaran tentang masyarakat desa Pampang, penjelasan terkait keseharian masyarakat, mata pencaharian dan keseharian mereka tentang bercocok tanam. Di Desa Pampang juga, masyarakat berencana akan membuat pertanian holtikultura dan berencana budidaya ikan. Lahan dan kolam telah tersedia sejauh ini telah siap, ujar  Wendy kepada para peserta.

saat menjelaskan tentang rencana pertanian masyarakat desa Pampang. foto doc. YP
Kurang lebih 20 peserta ikut serta dalam fieldtrip ini. Tua, muda dan anak-anak membaur menjadi satu tentang sebuah pemiliharaan ciptaan penciptaMenyusuri lahan hutan menjadi sebuah kebersamaan para peserta fighfinder. Tua muda menyatu dalam kegembiraan, melintas hutan, melintas pinggir dan menyusuri pantai menjadi sebuah pertemuan rekreasi yang tampak menuai senyum terlihat diwajah mereka. Berbagai game kebersamaan salah satu penyemangat mereka.  

Pencinta Alam Path Finder, gereja Adven memiliki semangat untuk peduli terhadap lingkungan. Anak muda semangat muda, sekalipun sudah tua tetapi tetap harus memiliki semangat muda, demikian ungkap pendeta Fredrik saat memberi materi kepada peserta pencinta alam. Kegiatan lainnya ada juga kegiatan sembayang, seminar pencinta alam, KKR Pemuda  dan MG Refresing.
Peserta melewati jalur baru. foto doc. YP

Kelompok Path Finder dari Ketapang dan Path Finder dari Singkawang rencananya juga  akan bergabung dengan beberapa klub Path Finder di seluruh Indonesia, di perkemahan perdivisi di Cibubur yang dikuti oleh kelompok konservasi dan kelompok guide dan dan tergabung dalam 16 negara di dunia yang akan hadir di tahun depan.

            Kegiatan tersebut berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan baik dari peserta. Di tahun mendatang, mereka berharap kembali untuk mengadakan kegiatan serupa.  (Pit-YP).

Friday, September 20, 2013

Belajar Keanekaragaman hayati di Hutan Riam Kinjil


Beberapa hari lalu, tepatnya 14 sampai 15 September 2013, Yayasan Palung bersama siswa kelas 3 SMPN 3 Matan Hilir Utara, melakukan fieldtrip (kunjungan lapangan untuk belajar tentang hutan dan Keaneragaman hayati -red) di Riam Kinjil.  
 
Jalur cukup terjal menuju lokasi Riam Kinjil. foto doc. YP

 
Menyeberang sungai dengan menggunakan rakit. foto 1, doc. YP
Riam Kinjil merupakan wilayah di Kabupaten Ketapang, lebih tepatnya berbatasan dengan Kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Kawasan hutan dan keaneragaman hayati di tempat ini masih cukup baik untuk kegiatan-kegiatan seperti fieldtrip, perkemahan, belajar dan jelajah hutan secara langsung.    
Diskusi dari hasil pengamatan malam, foto 2, doc. Yayasan Palung
Pemandangan di Riam Kinjil ini cukup memanjakan mata karena terdapat sungai dengan bebatuan. Air jernih dan gemuruh air terjun terdengar dan hutan masih terlihat terawat dengan ditandai oleh hawa sejuk di sekitar. Keanekaragaman hayati berupa hutan cukup baik, mengingat tempat tersebut masih terjaga. Selain itu, tumbuh-tumbuhan dan pepohonan disekitar masih tanpak alami. 
Sungai yang berbatuan masih baik_foto 3, doc. YP
Sungai yang berbatuan masih baik_foto 4, doc. YP
Lokasi fieldtrip di Riam Kinjil dipilih, mengingat jaraknya yang cukup dekat dari sekolah, walaupun sebenarnya jauh. Jalur yang dilewati cukup sulit, beberapa kali harus mendaki tanjakan yang cukup terjal dan banyak melewati sungai. Di Salah satu sungai, peserta Fieldtrip menyeberang sungai dengan menggunakan rakit dari papan. Pada Perjalanan pergi memakan waktu 3 jam 20 menit dan perjalanan pulang 2 jam 30 menit.  
Diskusi Kelompok setelah melakukan pengamatan satwa malam. foto 5, doc. Yayasan Palung


Yayasan Palung sejak 2009, berupa materi di kelas rutin dilakukan untuk siswa kelas 8 dan diakhir tahun ajaran siswa dibawa fieldtrip untuk praktek materi di lapangan sekaligus mendekatkan siswa ke alam dan mengenalkan apa yang ada di hutan, dengan kata lain belajar secara langsung di hutan.
Fieldtrip ini diikuti oleh 32 orang siswa dan 4 orang guru dari sekolah mereka. Kegiatan selama dua hari tersebut, mendapat sambutan baik dari peserta fieldtrip. Berbagai materi, diskusi dan pengamatan dalam kegiatan fieldtrip kali ini. Selain jelajah hutan, peserta fieldtrip melakukan pengamatan satwa, pengamatan diantaranyanya dilakukan pada satwa diurnal (satwa yang beaktivitas di siang hari-red), mereka berjumpa dengan Kelempiau. Sedangkan pengamatan satwa nokturnal (satwa yang beraktivitas di malam hari -red), mereka bertemu kelewar, jangkrik dan laba-laba. Selain itu, peserta fieldtrip belajar keanekaragaman hayati dan pengamatan indikator air bersih. Mereka juga diberikan beberapa game (permainan-red) seperti game borgol dan pallet warna.
Hasil melihat keanekaragaman hayati hutan dengan menggunakan media pallet warna. foto 6, doc. YP
Senam Pagi sebelum memulai kegiatan, foto 7, doc. YP
Di hutan Riam Kinjil, mereka (peserta dan Panitia-red) memasak makanan dengan menggunakan batu sebagai tungku dan kayu sebagai bahan bakar dengan tujuan menjaga kebersihan area dari sampah.
Mariamah Achmad dan Abdul Samad dari program Pendidikan Lingkungan, Yayasan Palung dan Winda Lestari (relawan Tajam, Yayasan Palung) ikut serta dalam kegiatan dan pemberian materi dalam fieldtrip tersebut. Siswa sangat senang mengikuti kegiatan ini walapun badan capek karena perjalanan yang jauh dan jalur yang cukup sulit.
Mudah-mudahan dengan adanya fieldtrip ini, mampu menumbuhkan, melatih dan mengembangkan mental siswa seperti tanggungjawab, kepekaan terhadap lingkungan dan kemandirian. ( Petrus Kanisius & Mariamah Achmad- Yayasan Palung).

Monday, September 16, 2013

Satwa dan Keanekaragaman Hayati Semakin Terancam


Satwa dan keaneragaman hayati semakin terancam atau dengan kata lain dalam ancaman saat ini. Tentu sangat beralasan, realita yang terjadi di muka bumi ini menjadi rangkaian tentang hidup makhluk hidup. Rentetan peristiwa memberikan gambaran tentang hal ini (Satwa dan keaneragaman hayati semakin terancam/dalam ancaman-red), tidak terkecuali kehidupan dan hidup manusia.  

Bumi sebagai tempat hidup semua makhluk saat ini, kini dan yang akan datang sudah semakin beragam masalah dan ancaman yang terjadi. Secara kasat mata memang segala ancaman tidak bisa terelakan, tidak bisa dihindari namun paling tidak ada upaya penyadaran/kesadaran dan langkah untuk melihat hal ini.
Sebetulnya, tidak hanya satwa dan keaneragaman hayati yang terancam, namun sejatinya manusia juga dalam ancaman dengan keadaan bumi yang semakin dipenuhi dengan dinamika dan perilaku kehidupan, hidup makhluk yang mendiami.  
Keterancaman makhluk hidup secara mendasar telah terjadi, proses alam dan perbuatan akan pemenuhan kebutuhan manusia yang semakin meningkat menjadi satu dari sekian persoalan ancaman atau keterancaman sekaligus tantangan seluruh makhluk di bumi.  
Bukti nyata ditandai dengan semakin seringnya fenomena alam mendera berupa bencana, satwa yang mendiami semakin sulit bertahan oleh semakin berkurangnya habitat sebagai tempat hidup berupa hutan dan pakan, ditandai dengan laju keurakan hutan yang melampaui batas, pola prilaku kehidupan manusia yang beragam tentu saja menjadi salah satu faktor sebab dan akibat tentang ancaman makhluk yang mendiami bumi ini. 
 Hal yang sama juga terjadi pada kehidupan manusia dengan semakin tingginya kebutuhan akan luasan pembangunan dan industri dengan kata lain peningkatan suhu bumi atau yang disebut pemanasan global dengan ditandai semakin bertambahnya kebutuhan berupa industri, pangan, konsumsi manusia semakin meningkat menjadi salah satu penyumbang ancaman terjadi.Tidak hanya itu, beberapa dari perluasan areal lahan untuk petanian dan perkebunan menggunakan racun pengusir hama. Penggunaan insektisida dan pestisida sebagai pengusir hama tentu saja bila digunakan secara berlebihan akan berpengaruh, meracuni dan membunuh makhluk hidup dan keanekaragaman hayati disekitarnya. Memang ada beberapa yang menggunakan cara alami, tetapi masih terbatas bila dibandingkan dengan penggunaan menggunakan racun hama.
Merunut dari data Serikat Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN’s) menyebutkan, daftar merah dari spesies yang terancam punah. Setidaknya, 17.291 dari 47.677 spesies terancam punah. Ditemukan 21 persen dari semua mamalia dikenal, 30 persen dari semua amfibi dikenal,12 persen dari semua burung dikenal dan 35 persen dari invertebrata saat ini diambang ancaman kepunahan. 
Pulau-pulau di Nusantara menyimpan banyak aset berharga dengan beragam satwa dan keanekaragaman hayati. Pulau Kalimantan misalnya dengan keberadaan Orangutan, Enggang, Bekantan, Kelasi, Trenggiling, Kelempiau dan beberapa jenis lainnya seperti burung serta tumbuh-tumbuhan langka. Di Sumatra terdapat Orangutan dan Harimau dan di Papua berupa  burung Cendrawasih, beberapa tempat lainnya juga memiliki keunikan dan keragaman hayati yang tidak ternilai harganya sudah semakin genting dengan seringnya ancaman terjadi akibat perilaku dan tindakan dari perbuatan tangan manusia dan mesin.
  Sebuah harapan akan keberlanjutan nasib hidup satwa, keaneragaman hayati dan manusia sejatinya harapan bersama agar terjaga dan lestari. Perhatian dari semua pihak sangat diperlukan saat ini, satwa dan keanekaragaman hayati menggantung dan tergantung pada pola prilaku, tindakan dan kebijaksanaan dari manusia. Tidak untuk saling menyalahkan, namun perlu ada tindakan nyata dari semua. Semoga….

By : Petrus Kanisius “Pit”- Yayasan Palung

Thursday, August 29, 2013

Dongeng Daerah Semakin Terlupakan di Negeri Ini


Saat Mendongeng kepada cucu. foto dok.Bimba-aiueo.com


Saat  saya masih kecil, dongeng sering kali diceritakan oleh ibu, bapak, nenek juga kakek, saat malam menjelang tidur. Beragam cerita khas daerah saban hari pasti diceritakan atau didongengkan. Dongeng dengan penokohan dari berbagai mitos seperti kancil dan binatang lainnya, legenda tentang kegagahan dan keperkasaan seorang disuatu daerah ataupun asal-usul kampung menjadi teman setia pengantar tidur yang ditunggu-tunggu. Sekarang tanpa terasa tahun berganti tahun sepertinya dongeng kian terkikis dalam arti semakin ditinggalkan dan telupakan.
Sampai saya meranjak dewasa, dongeng-dongeng daerah masih kerap diceritakan. Dongeng-dongeng tersebut tanpa lelah diceritakan kepada cucunya oleh almarhum nenek saat itu. Saya sering mendengar cerita daerah tentang asal usul kampung, cerita adat dan budaya kampung, larangan atau pantang Penti (larangan yang tidak boleh dilanggar-red), dengan artian dongeng-dongeng atau cerita tersebut berisi pesan moral yang baik.
Dongeng kura-kura dan beruk misalnya bercerita tentang kebaikan kura-kura sebagai pemilihara tanaman dan keserakahan si beruk yang sering merusak tanaman padi disekitar hutan tempat tempat penduduk berladang. Dua sosok, kura-kura dan beruk menjadi pembanding, penekanan cerita nenek di akhir cerita berpesan; berbuatlah seperti kura-kura yang bisa menjaga dan tidak boleh meniru sifat atau perilaku si beruk.
Dongeng lainnya tentang asal muasal nama kota Ketapang, kalbar berasal dari nama pohon yang namanya pohon Tapakng/Ketapang (nama latinnya Terminalia cattapa,spp.), konon katanya, saat itu kota Ketapang, Kalbar, banyak sekali ditumbuhi oleh pohon Tapakng atau Ketapang.
Dongeng tentang asal muasal adat Babantant  (membersihkan kampung halaman dari segala sakit penyakit dan menghargai alam sekitar). Asal muasal adat babantant, erat kaitannya dengan pesan moral akan kesadaran masyarakat kampung/adat yang saat itu berbagi bersama, menghargai tempat sekitar saat memulai dan mengakhiri kegiatan kampung agar terjaga dari sakit penyakit dan terhindar dari marabahaya. Saat ini pun, adat babantant masih dilakukan oleh beberapa kampung di daerah, biasanya babantant dilakukan dalam 2 tahun sekali atau 5 tahun sekali sebagai bentuk penghargaan akan lingkungan sekitar dan penghargaan akan ciptaan sang Duata (Sang Pencipta, Tuhan-red).
Dari beberapa dongeng atau cerita diatas, sebuah dongeng atau beberapa dongeng daerah atau bisa dikatakan cerita daerah sangat syarat dengan pesan moral yang baik. Hampir setiap cerita daerah memiliki pembanding tentang hal baik yang boleh ditiru dan hal yang buruk tidak boleh diikuti. Selain itu dongeng atau cerita daerah pasti mengisahkan tentang sejarah masa lalu walau terkadang masih berbentuk lisan dan ada beberapa yang terdokumentasikan dalam bentuk tulisan.
Sejatinya, dongeng khas daerah mampu menjadi dasar atau patokan pembelajaran kita saat ini. Realita berbicara, tutur cerita dari tradisi berdongeng  sudah semakin jarang terdengar. Adapun hanyalah tinggal beberapa saja yang masih mempertahankan. Dongeng sebagai bentuk warisan budaya tradisi masih sangat saying jika hilang, bagi anak sampai cucu nanti. Sebuah keprihatinan dan sangat di sayangkan memang. Banyak anak bahkan mungkin beberapa diantaranya enggan dan tidak tertarik lagi dengan dongeng-dongeng khas daerah yang dituturkan oleh Ibu, Bapak atau nenek mereka. Ironisnya mereka (saat sekarang-red), anak-anak lebih disuguhkan dengan cerita dari luar negeri lewat film melalui lewat televisi. Tidak hanya itu, keakraban akan nilai sejarah, adat budaya mulai terbawa luntur oleh teknologi terkini. Bahkan untuk berkumpul bersama dengan orangtua saja serasa tidak ada ruang lagi. Banyak anak-anak lebih memilih bermain dan menghabiskan waktu mereka hanya untuk kongko-kongko (ngumpul bersama teman-red) namun bahasan dongeng lebih pada realita trand masa kini yang mungkin sedikit banyak mempengaruhi gengsi dan pengaruh-pengaruh negatif.   
Tentunya dongeng atau cerita daerah ini 1-2 atau 3 dongeng yang ada dan masih banyak sekali  dongeng yang lainnya di negeri kita tercinta Indonesia (dari Sabang sampai Merauke), yang tentunya pasti memiliki muatan-muatan positif dan baik tentang ajaran, pendidikan dan falsafah dalam kehidupan masyarakat.
Entah lupa atau sengaja lupa, dongeng atau cerita daerah kian terkikis dan terlupakan. Akankah masih ada waktu untuk kembali ada dan menjadi tradisi lestari bagi anak dan cucu nanti tentang sebuah dongeng atau cerita khas daerah. Sebuah pengharapan tentunnya harus ada, jika semua mau dan mampu menghidupkan kembali tentang sebuah pesan tradisi melalui dongeng yang memiliki satu pesan berjuta arti dalam menjalani kehidupan ini, kapanpun dan dimanapun. Mudah-mudahan saja…

By : Petrus Kanisius “Pit”- Yayasan Palung

Tulisan yang sama dapat juga dibaca di :