I made this widget at MyFlashFetish.com.

Friday, June 21, 2013

Kabut Asap Acap Kali Berulang, Siapa Bertanggungjawab ?



Sumatera  Masih berselimut Asap, foto doc. remanews.com

“ Ekspor kabut asap, sering disebut akibat tangan-tangan tidak kelihatan”

Kabut asap yang menurut informasi adalah yang terparah semejak 12 tahun terakhir. Kualitas pencemaran udara melampaui batas normal yakni mencapai 460 Indeks Standard Polusi udara (PSI) yang sangat berbahaya bagi aktivitas dan kesehatan. Sumber asap dan kabut berasal dari kota Dumai, Riau tersebut sudah terjadi sejak beberapa hari lalu, akibat dari sisa-sisa pembakaran lahan untuk perluasan perkebunan kelapa sawit. Kabut asap ini juga menyebar di beberapa kota di Sumatera dan Kalimantan, bahkan sampai ke Negara tetangga.
Sudah pasti dan terus terulang, kabut asap akrab terjadi dan berulang dari tahun ke tahun tanpa berhenti saat musim kemarau tiba dan pada saat pembukaan lahan dilanjutkan dengan pembakaran untuk perluasan areal penanaman perkebunan sawit. Buruknya kualitas udara dan kabut asap yang tebal (pekat) sebagai ancaman (dampak langsung ditimbulkan-red), kembali mengganggu dan membahayakan berbagai aktivitas masyarakat di berbagai sektor kegiatan dan tentunya juga pada kesehatan yang sangat mengganggu dan berbahaya.
Jarak pandang yang terhalang bagi para pengendara (mobil dan motor) dan transpotrasi udara (pesawat-red) sangat terganggu akibat kabut asap ini. Tidak hanya itu, aktivitas atau kegiatan rutin lainnya seperti perkantoran, sekolah dan berbagai aktivitas lainnya menjadi terganggu.  Salah satu Negara tetangga telah terusik akibat kabut asap yang terjadi. Dua hari lalu (18/6),  Singapura melayangkan protes akibat asap kiriman tersebut.     
  Ancaman utama akibat kabut asap antara lain, pencemaran udara atau polusi udara yang berpotensi terserang penyakit  infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Ancaman lainnya adalah rawan terjadinya kecelakaan akibat jarak pandang terbatas akibat pekatnya kabut. Seperti diketahui, Indeks Standard Polusi udara (PSI) tidak boleh melebihi batas angka 100 karena sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, terlebih anak-anak.
Ekspor kabut asap yang terjadi sering disebut akibat tangan-tangan tidak kelihatan. Sudah barang tentu, sebutan tangan-tangan tidak kelihatan. Hal ini (kabut asap-red) menjadi dasar pertanyaan siapa yang bertanggungjawab sesungguhnya. Secara pasti semua tahu jawabannya. Ini menjadi sebuah dilema dan terus saja terjadi. 
Perluasan areal secara besar-besaran seiring sejalan dengan mudahnya api membakar dan menjalar di tambah areal tersebut hampir dipastikan kering kerontang di saat musim kemarau tiba. Data analis BMKG menyebutkan, akibat lain dari semakin tebalnya kabut asap yang terjadi di Dumai, Riau di sokong oleh angin siklon tropis yang bergerak kencang membawa kabut asap melintasi berbagai wilayah termasuk ke negara tetangga seperti Singapura.
Berdasarkan data satelit NOAA18 di Kementerian Kehutanan, jumlah titik panas di Riau 148 titik, Jambi 26 titik, Kalbar 22 titik, Sumsel 6 titik, dan Sumbar 5 titik. Hotspot juga terjadi di negara lain seperti Malaysia sebanyak 8 titik, Thailand, Lao PDR, Vietnam, Cambodia 29 titik, dan Myanmar 17 titik.
Seperti di Ketahui, wilayah hutan Riau yang terbakar adalah areal lahan hutan gambut. Lahan gambut memiliki serabut-serabut dari akar yang menyebar pada dasar tanah dan merambat, sehingga sudah dipastikan sangat menyulitkan upaya pemadaman. Dampak lain dari dampak pembukaan lahan yang berujung pada kabut asap tentunya juga berdampak bagi keberlangsungan habitat makhluk hidup termasuk keanekaragaman hayati.
Kita Sudah terlanjur diberi cap negatif sebagai negara pengekspor asap. Kabut asap yang kerap kali terjadi dan terus terulang sejatinya bisa untuk diatasi dan dipertanggung jawabkan oleh pihak-pihak yang memiliki kewenangan (pelaksana pembukaan lahan-red) secara bijaksana. Kita Tidak hanya itu, pembatasan perluasan areal menjadi cara dan langkah yang tepat. Apabila tidak, kebakaran terus terjadi dan kabut asap terus akan berulang. 

By : Petrus Kanisius “Pit”-  Yayasan Palung

Baca juga tulisan yang sama di :


No comments:

Post a Comment