I made this widget at MyFlashFetish.com.

Tuesday, October 2, 2012

Field Trip Melihat Indahnya Pesona dan Keanekaragaman Hayati di Hutan Lubuk Baji



Beberapa waktu lalu, tepatnya 28 - 30 September 2012, Yayasan Palung mendampingi field trip (kunjungan lapangan-red) siswa-siswi Sispala PASStA (Pencinta Alam SMP St. Augustinus) di kawasan hutan Lubuk Baji. Field trip ini juga sekaligus pengukuhan anggota baru PASStA. Berbagai Kegiatan dilakukan seperti pengamatan daun (morfologi daun), pengamatan fauna dan flora serta pengamatan indikator air. 
                Mendaki menunju hutan Lubuk Baji

            Keceriaan, semangat dan sedikit kelelahan sangat terasa saat kami mendaki untuk menuju hutan di Lubuk Baji, namun rasa lelah yang kami rasakan hilang seketika setelah kami sampai di hutan nan rimbun itu. Keceriaan ini tentunya sangat beralasan karena kami banyak melihat hutan berupa pohon yang berdiri kokoh, gemuruh air terjun, suara satwa dan burung terdengar bersautan.   

Hari pertama, peserta field trip diberi materi tentang pengenalan dasar-dasar identifikasi flora, khususnya morfologi daun dan tumbuhan. Seperti kita ketahui, morfologi tumbuhan, khususnya tentang organ daun. Selain itu, pengamatan Keanekaragaman hayati masih sangat tinggi di kawasan hutan Lubuk Baji (wilayah penyangga Taman Nasional Gunung Palung-red). Tumbuh-tumbuhannya masih lengkap, hutannya masih terjaga dan ketersediaan pakan bagi primata seperti Owa/kelempiau (Hylobates muelleri), kelasi (Presbitys rubicunda), dan burung enggang masih tersedia. Kami juga menemukan 5 sarang orangutan (sarang tipe C, sekitar 1-2 bulan), namun sayang kami tidak menjumpai orangutan. Setelah diberikan materi dasar, siswa-siswi Sispala PASStA melakukan pengamatan dan penelitian tentang daun dan selanjutnya mereka melakukan persentasi hasil pengamatan. Malam harinya diadakan pengamatan hewan malam hari (nokturnal), dalam pengamatan mereka menemukan musang (Paradoxurus hermaphrodites), lingsat dan tupai tanah (Lariscus insignis), semut api dan laba-laba seperti laba-laba Laba-laba penenun (Araneus diadematus; subordo Araneomorphae) dan kalajengking (Androctonus crassicauda).
        Pengamatan morfologi daun di hutan Lubuk Baji

Morfologi daun merupakan ilmu yang mempelajari bentuk dan struktur daun, melihat secara bentuk fisik secara langsung daun. Tujuan morfologi daun untuk melihat keragaman jenis tumbuhan. Dengan melihat keragaman tersebut, mampu melihat kawasan atau memberi daya dukung fauna yang ada di dalamnya.

Belajar secara langsung di hutan sangat membantu dalam proses belajar dalam ilmu terapan atau praktek. sedangkan bila dibandingkan di kelas hanya teori, namun apabila teori saja belumlah cukup atau maksimal. Sedangkan bila melihat secara langsung, mereka dapat melihat secara langsung pada bentuk dan ciri dari obyek yang mereka lihat.     

Menurut Edward Tang sebagai seorang Biologist, berkesempatan memberikan materi tentang morfologi tumbuhan bagi siswa-siswi Sispala PASStA. Dia berharap dari mempelajari morfologi daun, secara sosial diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan kepada siswa bahwa Indonesia memiliki hutan tropis yang sangat tinggi untuk dipertahankan sebagai kebutuhan masyarakat lokal sebagai tumbuhan obat, sumber tanaman buah sebagai pemenuhan masyarakat. Secara ekonomi, dengan keragaman yang tinggi merupakan daya tarik yang tinggi bagi turis sebagai daya tarik turis baik lokal dan mancanegara bermanfaat untuk sumber masyarakat lokal. Bagi Scient atau ilmu pengetahuan, keanekaragaman yang tinggi merupakan perpustakaan besar bagi sumber informasi bagi pelajar, karena sangat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Sedangkan manfaat ekologi, diharapan dengan terjaganya kawasan hutan memiliki andil besar akan tercipta iklim mikro dan makro. Iklim mikro, dirasakan secara langsung seperti suasana segar, sejuk dan udara yang bersih. Sedangkan iklim makro, memiliki kontribusi besar bagi iklim dunia. 
         Kawasan hutan Lubuk Baji

Pada hari kedua, kegiatan siswa-siwi diisi dengan diskusi bersama hasil pengamatan indikator air dan pengamatan satwa. Dalam diskusi, para Sispala PASStA yang berjumlah 30 orang tersebut, tampak sangat bersemangat untuk berbagi dan bercerita dengan sesama mereka tentang pengamatan yang baru saja mereka lalukan. Seperti misalnya mereka bercerita tentang indikator air berupa komponen biotik seperti ikan, udang, kura-kura dan labi-labi yang mereka jumpai saat pengatan. Komponen abiotik seperti, mereka juga bercerita tentang sejuknya alam saat mengamati. Sedangkan pada malam harinya dilakukan pengukuhan anggota baru yang di lantik dan dikukuhkan oleh guru pendamping mereka, bapak Aliman. Pengukuhan anggota PASStA juga didampingi dari Yayasan Palung, yang terdiri dari Edward Tang, Ranti Naruri, Petrus Kanisius, Udin dan Idris (guide dari Taman Nasional Gunung Palung) dan di bantu oleh relawan Yayasan Palung, Winda, TAJAM dan Wanto, RebonK. Sebelum dilantik, mereka membuat ikrar dan janji sebagai pencinta alam. Ikrar dan janji yang mereka ucapkan antara lain, bersedia untuk selalu peduli dengan lingkungan khususnya hutan dan menjadi pelopor di sekolah untuk ikut mengkampanyekan arti penting menjaga lingkungan sekolah dari sekolah. Selanjutnya mereka diuji mentalnya untuk menyusuri sungai dalam kegelapan, jarak sungai yang harus mereka lalui berjarak ± 100 meter. Keesokan harinya, sebelum pulang kembali ke Ketapang, kami mendaki menuju Batu Bulan di kawasan Lubuk Baji untuk melihat pemandangan di sekitar kota Sukadana dari ketinggian. Namun kami tidak beruntung hari itu, karena kabut tebal melindungi pemandangan kami.  
      
  Hydnocarpus borneensis (buah belangiran), pakan orangutan
                                      
Keanekaragaman hayati di hutan Lubuk Baji masih sangat tinggi. Lubuk Baji merupakan wilayah penyangga Taman Nasional Gunung Palung. Tumbuh-tumbuhannya masih lengkap, hutannya masih terjaga dan ketersediaan pakan bagi primata dan burung enggang masih tersedia.  Pohon-pohon terlihat didominasi, seperti liana, janta/jatak buah ( wilughbeia sp), pohon batu (Urvingia malayana),pohon kumpang Lorsfieldia sp dan Gimnachirantra. Aglaia sp. Family meliaceae sejenis duku-dukuan (duku hutan). Hydnocarpus borneensis (family flacourtiaceae)/ blangiran, merupakan pakan orangutan (Pongo pygmaeus). Baccaurea stipulate (famili euphorbiaceacae)/ rambai hutan pakan primata dan burung enggang (Buceros vigil dan Buceros rhinoceros). jenis paku-pakuan, meranti, rengas, punak, belian, tanaman obat, buah-buahan apel hutan dan berbagai jenis anggrek juga vegetasi yang mengalami suksesi yang didominasi oleh semak dan tumbuhan pioner (Macaranga sp).

Untuk menjangkau daerah hutan Lubuk Baji (kawasan hutan penyangga), dari Kabupaten Ketapang dapat di tempuh dengan perjalanan darat menuju Kampung Begasing, Desa Benawai Agung, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Secara geografis terletak pada koordinat 01013’04,9’’LS dan 110000’37,2’’ BT. Dari Kampung Begasing menuju Lubuk Baji ditempuh dengan  perjalanan kaki dengan jarak tempuh sekitar kurang lebih 2,5 jam perjalanan.
Air terjun setinggi + 15 meter, lebar + 8 meter potensi dan daya tarik obyek wisata dengan kondisi berbatu terjal, disebelahnya terdapat juga air terjun kecil yang mengalir pada batu-batu terjal. Sungai yang mengalir berikutnya berair jernih dan berbatu terjal. Pandangan di sekitar obyek masih tertutup vegetasi alami. 
                                         
  
     Berfoto bersama Guru Pendamping Sispala PASStA, di Camp Lubuk Baji

Batu Bulan tebing ini memiliki ketinggian sekitar 50-60 meter dengan kecuraman hampir 90 derajat.  Dari atas tebing, kita dapat melihat sebuah panorama pegunungan yang sangat jarang dapat dinikmati di daerah Kalimantan. Mata kita akan dipuaskan dengan hijaunya hutan dan formasi penutupan tajuk dari hampir seluruh permukaan Gunung Palung, Gunung Panti, dan birunya Pantai Pulau Datuk. Kondisi batuannya relatif kokoh, tapi sebagian permukaannya mengeluarkan air di sepanjang tebing.  (Petrus Kanisius “Pit”- Yayasan Palung).

1 comment: